DPRD Kaltim Desak Perbaikan Regulasi: Petani Sulit Buka Lahan tanpa Eksamin

RAIDMEDIA, SAMARINDA – Anggota Komisi II DPRD Kalimantan Timur (Kaltim), Guntur, menyoroti kebijakan pemerintah pusat terkait larangan membuka lahan dengan cara membakar. Kebijakan tersebut dinilai menyulitkan petani di daerah, terutama dalam membuka lahan baru karena keterbatasan alat berat.
“Kami sudah beberapa kali ke kementerian, termasuk menyampaikan soal alsintan (alat dan mesin pertanian),” ujarnya.
Ia menegaskan larangan membakar lahan membuat petani tidak memiliki banyak pilihan selain menggunakan alat berat seperti ekskavator mini (eksamin).
“Kalau membakar tidak boleh, terus petani buka lahannya pakai apa? Mereka tidak punya alat, dan untuk menyewa saja bisa sampai puluhan juta. Mana sanggup petani?” tegasnya.
Guntur menyebut meskipun aturan membuka lahan dengan pembakaran dibolehkan dalam bentuk kelompok, hal itu tetap tidak realistis di lapangan. Menurutnya, penggunaan eksamin adalah solusi minimal dan realistis untuk masyarakat, karena alat tersebut membantu proses pembukaan lahan tanpa melanggar aturan pembakaran. Namun, bantuan alat seperti eksamin justru diambil alih oleh pemerintah pusat.
“Kalau eksamin diambil pusat, saya rasa pertanian kita tidak akan berkembang. Lama-lama lahan makin sempit, dan yang bisa usaha cuma pengusaha besar. Masyarakat kecil tidak bisa hidup,” ujarnya.
Lebih lanjut, Guntur mengaku sudah menyampaikan aspirasi ini ke kementerian terkait, namun hanya mendapat jawaban bahwa hal tersebut akan diubah melalui peraturan menteri (Permen) atau peraturan pemerintah (PP).
“Hari ini kita juga lagi bahas soal pupuk. Komisi II yang menangani pertanian akan terus mengonsultasikan hal ini ke pusat. Kami ingin pupuk dan alsintan dikelola daerah, karena kami yang tahu kebutuhan petani,” jelasnya.
Ia menegaskan, jika pemerintah pusat ingin mengambil alih pengadaan alat, seharusnya ada pendekatan terlebih dahulu untuk memahami kebutuhan riil di daerah. ”Jangan sampai kebijakan pemerintah pusat mematikan peluang hidup petani kecil,” pungkasnya. (adv/bi)



